Pembudidaya Jamur Tiram di Tanah Laut ini Awalnya Karyawan Pabrik Tebu



BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI – DITUTUPNYA pabrik tebu Pelaihari, pada sekitar 90-an, tidak membuat Supardi, balik ke kampung halaman dan menjual lahannya. Warga transmigrasi perkebunan inti rakyat ini, masih tetap menggarap lahan usaha tani miliknya seluas 1,5 hektare.

“Pabrik tebu tutup. Lahan itu kami tanami kelapa sawit. Masih ada lahan lainnya untuk tanaman lainnya,” katanya.

Supardi mengaku sekitar, 2006 lalu, sudah memulai budidaya jamur tiram. Cuma budidaya itu terkendala pemasaran jamur tiram mentah.

Kini, Supardi tak lagi melakukan budidaya jamur tiram karena ada delapan pembudidaya jamur tiram yang dibinanya di Kelurahan Karangtaruna.

“Dahulu, pemasaran budidaya jamur tiram sangat sulit. Banyak yang tidak mengetahui dan menikmati. Kini sudah ada yang membudidayakan,” katanya.

Supardi bertanggung jawab, budidaya jamur tiram itu, tidak begitu laku jika tanpa diolah. Maka, pada 2008, dirintislah usaha pembuatan keripik dari bahan jamur tiram.

“Saya cuma mencarikan bibit jamur tiram dan mengawasi cara budidaya. Saya juga yang mengumpulkan untuk diolah bahan keripik jamur tiram,” katanya.

Kini, usaha pembuatan keripik jamur tiram itu saat ini satu-satunya pengerajin keripik jamur tiram di Kabupaten Tanahlaut.

Meski tidak sedikit warga yang dilatihnya, belum ada yang benar-benar memasarkan produk keripik itu untuk di pasarkan. Itu karena proses pengolahan keripik tidak sebentar hingga rasanya nikmat dan renyah dikunyah.

“Perlu keuletan dan kesabaran. Saya membuat keripik ini sejak 2008 lalu. Artinya hampir 10 tahun ini. Pelanggan kami paling besar di Batulicin, Pelaihari, Banjarbaru dan sedikit di Banjarmasin,” katanya.

Rumah Supardi, di Jalan Taruna Jaya, Kelurahan Karangtaruna, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut, tak pernah sepi. Ada saja kunjungan para mahasiswa yang ingin melihat budidaya jamur tiram dan praktik mengolah keripik jamur tiram.(Banjarmasin Post/Mukhtar Wahid)

source