NASIONALISME DI SIMPANG JALAN "Momentum Mrebut Kmbali Negara Atau Mnuju Msyrakt Zonder Ideologi"2013



LKSB Menyelenggarakan Seminar Nasional dg tema: NASIONALISME DI SIMPANG JALAN “Momentum Merebut Kembali Negara Atau Menuju Masyarakat Zonder Ideologi” 19 Juli 2013, Gd. PBNU. Dihadiri oleh para narasumber: 1. Dr. Ali Masykur Musa (Ketua ISNU & Anggota BPK RI), 2. Prof Rusydi (SekJend FORKANTARA), 3. Syahrul Arubusman, SM, MH (WaSekJend LPBH-NU PBNU). Juga dihadiri para tokoh pergerakan antara lain: Twedy Noviady Ginting (Ketua Presidium PP.GMNI), Khairul Anam HS (Ketum PP.IPNU), Tuti Laila Sari (mantan Ketum HIMAHI UNIJA periode 2000-2001) dll..
Fokus Bahasan: Sebagai bangsa yg sudah merdeka lebih dari setengah abad (68th saat itu) Indonesia masih mengalami persoalan mendasar, yakni merosotnya nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme dan semangat kemajemukan sebagai bangsa yang multikultural. Masih saja ada upaya pengingkaran terhadap pluralitas bangsa Indonesia yang setiap saat dapat saja muncul ke permukaan. Sebagai bangsa yang multi etnis, ras, suku, budaya, bahasa dan agama, secara jujur, kita masih belum bisa menghilangkan atau paling tidak meminimalkan apa yang disebut dengan barrier of psikology [batas psikologis/prasangka] terhadap sesama anak bangsa. Itulah yang kerap memunculkan konflik bernuansa SARA di negeri ini baik secara vertikal maupun horizontal. Ini dapat dibuktikan dengan makin maraknya tawuran antar kampung dan pelajar di berbagai daerah. Tawuran yang terjadi kerap kali mengatasnamakan komunitas, nama besar kampung atau sekolah, ras atau etnis bahkan atas nama agama dan Tuhan! Sebagai sebuah bangsa besar yang majemuk dan telah berdiri lebih dari 60 tahun lalu, kita seperti kehilangan nalar publik untuk hidup bersama atas dasar semangat kesatuan dan persatuan nasional. Semua persoalan yang terjadi sesungguhnya sinyal lemahnya “ketahan dan kedaulatan bangsa.” Selain itu pula, banyak variabel yang memengaruhi lemahnya ketahanan dan kedaulatan bangsa. Variabel tersebut salah satunya adalah “marjinalisasi” di bidang ekonomi, politik, hukum, sosial dan budaya. Di dalam ketiadaan keadilan, keamanan dan perlindungan hukum bagi individu untuk mengembangkan dirinya, orang lebih nyaman berlindung di balik warga-tribus (tribalisme, premanisme, koncoisme dan sektarianisme) ketimbang warga-negara. Persoalan ekonomi-politik yang bersumber dari manajemen negara yang korup menyisakan kelangkaan dan ketimpangan alokasi sumberdaya di rumah tangga kebangsaan. Jika aparatur negara hanya sibuk mengamankan kekuasaan dan dapurnya sendiri, maka individu akan segera berpaling ke sumber-sumber tribus sebagai upaya menemukan rasa aman. Di sini persoalan ekonomi-politik yang objektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitias yang subjektif.
Kutipan Wawancara: 1. Dr. Ali Masykur Musa: “Saya bangga Indonesia pertumbuhan ekonominnya 6.3 hingga 6,4 persen. Investasinya juga sangat signifikan tiga tahun berturut-turut. Tetapi, saya katakan, investasi dan pertumbuhan itu semu karena tidak didasarkan pada sektor riil di bawah,” ujarnya. Kesemuanya itu, menurut Ali Masykur, karena wujud pertumbuhan tidak di level UMKM melainkan lebih banyak di pasar modal. Posisi pasar modal dinilai sangat rapuh karena ia bukan investasi langsung berjangka panjang lantaran tergantung, misalnya, pada faktor politik internasional. Dia mengingatkan tentang perlunya berhati-hati dengan jebakan klaim keberhasilan yang menggambarkan seolah-olah Indonesia menjadi kekuatan ekonomi baru di dunia. Sebab, kesejahteraan rakyat belum benar-benar terjadi dan kedaulatan ekonomi masih jauh dari pangang api. Ali Masykur menambahkan, kepemilikan kekayaan dalam negeri belum sejalan dengan semangat nasionalisme ekonomi Indonesia. “Karena 88 persen dari total K3S (kontraktor kontrak kerja sama) yang mengeksplorasi dan mengeksploitasi migas di Indonesia itu bukan Pertamina,” paparnya.
Sementara itu Prof. Rusydi menggarisbawahi, problem pokok di Indonesia adalah pada penegakan hukum yang tidak adil. Persoalan kian runyam ketika pemerintah tak mampu bersikap tegas dan mudah dikendalikan kekuatan asing. (Sumber:http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,45957-lang,id-c,nasional-t,Ali+Masykur++Pertumbuhan+Ekonomi+Indonesia+Semu-.phpx)

source